RH 167 KOPI “Belajar Percaya di Tengah Ujian”
“Jika Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu dan dari tanganmu, ya raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku .”
— Daniel 3:17–18
Renungan
Iman sejati bukan hanya percaya ketika Tuhan menolong, tetapi tetap percaya meskipun Tuhan belum bertindak.
Tiga pemuda Ibrani—Sadrakh, Mesakh, dan Abednego—menghadapi ancaman nyata: api yang menyala-nyala. Namun mereka berkata, “Sekalipun tidak, kami tidak akan menyembah patung itu.” Inilah inti dari iman yang murni: percaya kepada Tuhan, bukan karena keadaan, tetapi karena siapa Dia.
Sering kali, api ujian membuat kita ingin lari, marah, atau meragukan kasih Tuhan. Namun justru di tengah api itu, kasih-Nya nyata. Ketika ketiganya dilempar ke dalam perapian, seorang keempat hadir bersama mereka — “yang serupa dengan anak dewa-dewa.”
Itulah Kristus, yang berjalan di tengah api bersama umat-Nya.
Tuhan tidak selalu memadamkan api, tetapi Ia selalu menyertai di dalamnya.
Pria yang imannya dimurnikan tidak lagi bertanya “mengapa,” melainkan berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu.” Ia tahu bahwa setiap nyala api yang Tuhan izinkan sedang memperkuat keyakinannya, bukan melemahkannya. Percaya di tengah api adalah bentuk tertinggi dari iman.
Refleksi Pribadi
Apakah aku masih percaya kepada Tuhan meskipun situasi terasa seperti “api yang menyala”?
Dalam hal apa aku sedang diuji untuk mempercayai Tuhan tanpa syarat?
Apakah aku mau tetap setia meski hasilnya belum seperti yang kuharapkan?
Doa
Tuhan, Engkau tahu panasnya api yang sedang aku hadapi.
Aku tidak selalu mengerti mengapa Engkau izinkan hal ini, tetapi aku mau tetap percaya bahwa Engkau hadir bersamaku di dalamnya.
Tolong aku untuk memiliki iman seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego — iman yang tidak terguncang oleh keadaan, tetapi teguh karena mengenal siapa Engkau.
Bentuk aku melalui api-Mu, dan jadikan aku pribadi yang murni di hadapan-Mu.
Amin
