RH 134 WBI “Berjalan Dengan Iman, Bukan Dengan Perasaan”
“Tetapi orang benar akan hidup oleh percayanya.” (Habakuk 2:4b)
Renungan
Perasaan manusia berubah-ubah. Hari ini kita bisa penuh semangat, tetapi esoknya mungkin hati terasa kosong dan kecewa. Jika hidup kita ditentukan oleh perasaan, maka kita akan mudah terombang-ambing. Karena itu, Tuhan memanggil kita untuk hidup oleh iman, bukan oleh perasaan.
Iman berarti tetap percaya walau hati belum merasa tenang. Tetap melangkah walau jalan tampak gelap. Tetap berharap walau keadaan belum berubah. Perasaan bisa menipu, tetapi iman berpegang pada kebenaran Firman Tuhan yang tidak berubah.
Yesus sendiri pernah mengalami pergumulan batin di Taman Getsemani. Ia takut, Ia gentar, namun tetap berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Itulah bukti bahwa iman bukan perasaan, melainkan ketaatan.
Wanita yang tangguh belajar menundukkan emosinya di bawah kebenaran Tuhan. Ia tahu bahwa perasaannya tidak selalu benar, tetapi Firman Tuhan selalu benar. Ketika perasaannya lemah, imannya tetap berkata: “Tuhan, aku tetap percaya Engkau bekerja.”
Refleksi Pribadi
1. Apakah aku lebih sering dipimpin oleh perasaan atau oleh iman kepada Tuhan?
2. Bagaimana aku bisa belajar menundukkan emosiku di bawah kebenaran Firman Tuhan?
3. Saat hatiku goyah, ayat apa yang bisa menjadi pegangan imanku?
Doa
“Tuhan Yesus, aku bersyukur karena Engkau mengajarkanku untuk berjalan dengan iman, bukan dengan perasaan. Saat hatiku sedih, kecewa, atau takut, ingatkan aku bahwa Engkau tetap berkuasa dan setia. Tolong aku agar tidak hidup mengikuti emosi, tetapi berpegang teguh pada janji-Mu. Jadikan aku wanita yang tangguh, yang tetap melangkah dengan iman, walau perasaanku bergejolak. Dalam nama Yesus aku berdoa, amin.”
