Doktrin Trinitas: Bapa, Anak, dan Roh Kudus

Doktrin Trinitas: Bapa, Anak dan Roh Kudus
Oleh: Pdt. Dr. Hengky Andrian, M.Th

Bagaimana Allah Menyatakan Diri-Nya kepada Manusia?

Bagaimana Allah Menyatakan DiriNya Kepada Manusia?
Oleh: Pdt. Hengky Andrian, M.Th

Sifat-Sifat Allah (Atribut Allah)

Sifat-sifat Allah (Atribut Allah)
1. Allah Itu Mahakuasa (Omnipotent)
Allah memiliki kuasa penuh atas segala sesuatu di alam semesta. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. “Karena bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Lukas 1:37)

2. Allah Itu Mahahadir (Omnipresent)
Allah ada di mana-mana, tidak terbatas ruang. Tidak ada tempat yang tersembunyi dari-Nya.
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” (Mazmur 139:7)

Aplikasi: Kita tidak pernah sendirian—Allah selalu menyertai.

3. Allah Itu Mahatahu (Omniscient)
Allah tahu segalanya—baik masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Ia tahu isi hati setiap manusia. “Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tidak terhingga.” (Mazmur 147:5)

Aplikasi: Kita bisa percaya bahwa Allah tahu yang terbaik bagi hidup kita.

4. Allah Itu Kekal (Eternal)
Allah tidak memiliki awal atau akhir. Ia tidak diciptakan, dan tidak akan pernah berakhir.
“Sebelum gunung-gunung dilahirkan… dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.” (Mazmur 90:2)

Aplikasi: Di dunia yang terus berubah, Allah adalah satu-satunya yang tetap.

5. Allah Itu Kudus (Holy)
Kekudusan adalah inti dari keberadaan Allah. Ia tidak bercela, tidak berdosa, dan terpisah dari segala kejahatan. “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam!” (Yesaya 6:3)

Aplikasi: Allah memanggil kita untuk hidup dalam kekudusan seperti Dia.

6. Allah Itu Kasih (Loving)
Allah penuh kasih, bukan hanya pada orang baik, tetapi juga pada orang berdosa. Kasih-Nya nyata dalam pengorbanan Kristus. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…” (Yohanes 3:16)

Aplikasi: Kita dikasihi tanpa syarat—dan dipanggil untuk mengasihi sesama.

7. Allah Itu Adil (Just)
Allah selalu bertindak dengan benar. Ia akan menghakimi kejahatan dan membela kebenaran. “TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.” (Mazmur 145:17)

Aplikasi: Kita bisa mempercayakan keadilan kepada Tuhan.

8. Allah Itu Setia (Faithful)
Apa yang Dia janjikan, pasti ditepati. Dia tidak pernah ingkar. “Kesetiaan-Mu sampai turun-temurun…” (Mazmur 100:5)
Aplikasi: Kita bisa bersandar pada janji Tuhan, bahkan saat hidup terasa sulit.

Kesimpulan
Sifat-sifat Allah ini bukan hanya untuk diketahui, tapi untuk dipercaya dan dialami dalam hidup sehari-hari. Semakin kita mengenal sifat-sifat-Nya, semakin kuat iman dan pengharapan kita di dalam Dia.

SIAPAKAH ALLAH ITU?

TEOLOGI POPULER

TEOLOGI POPULER
Oleh: Pdt. Dr. Hengky Andrian, M.Th

Kerjakanlah Keselamatanmu Dengan Takut dan Gentar

Mengapa orang percaya bisa murtad atau meninggalkan imannya?

Mengapa orang percaya bisa murtad atau meninggalkan imannya?
1. Hati yang tidak sungguh-sungguh percaya
“Tetapi sebagian dari mereka tidak tahan uji, sebab hati mereka tidak tetap pada perjanjian Allah.” – Mazmur 78:37

Ada orang yang hanya percaya secara lahiriah, namun hatinya tidak pernah benar-benar menyerahkan hidup pada Tuhan. Ini seperti benih di tanah berbatu dalam perumpamaan penabur (Markus 4:16–17): cepat tumbuh tapi tidak berakar.

2. Tergoda oleh dunia
“Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku…” – 2 Timotius 4:10

Cinta akan dunia (harta, popularitas, kenyamanan) bisa perlahan-lahan menggeser kasih kepada Kristus.

3. Tekanan, aniaya, atau penderitaan
“Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu segera murtad.” – Markus 4:17. Iman yang tidak siap menderita mudah runtuh saat diuji.

4. Ajaran sesat atau penyesatan
“Roh berkata dengan jelas, bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad… karena pengaruh roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan.” – 1 Timotius 4:1

Pengaruh pengajaran yang menyimpang, baik dari luar maupun dalam gereja, bisa membuat orang tersesat dan berbalik dari kebenaran.

5. Tidak bertumbuh dalam iman
“Karena itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama… dan beralih kepada tingkat yang lebih tinggi.” – Ibrani 6:1

Jika seseorang tidak bertumbuh secara rohani, ia mudah lemah dan akhirnya jatuh. Iman yang tidak dipelihara bisa padam.

6. Keinginan dosa yang tidak ditinggalkan
“Sebab jika mereka dengan sengaja berbuat dosa, sesudah menerima pengetahuan akan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” – Ibrani 10:26

Orang yang memilih hidup dalam dosa secara terus-menerus, menolak pertobatan sejati.

Kesimpulan:
Orang bisa murtad karena :iman yang dangkal, godaan dunia,, tidak tahan terhadap penderitaan, atau pengaruh dosa dan ajaran sesat.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk:
1. Terus bertumbuh dalam firman
2. Setia dalam persekutuan
3. Hidup dalam pertobatan dan ketekunan

Kalau Allah sudah mengampuni kita lewat pengorbanan Yesus, apakah kita masih perlu meminta pengampunan saat berbuat dosa lagi?

Oleh: Pdt. Dr. Hengky Andrian, M.Th

Kalau Allah sudah mengampuni kita lewat pengorbanan Yesus, apakah kita masih perlu meminta pengampunan saat berbuat dosa lagi?

Jawabannya: Ya, kita tetap perlu minta ampun.
Berikut alasannya secara Alkitabiah dan sederhana:

1. Pengampunan di Kayu Salib Bersifat Menyeluruh, Tapi Hubungan Perlu Dipulihkan
a. Ketika kita percaya kepada Yesus, kita diampuni secara penuh dan diangkat menjadi anak Allah (Efesus 1:7)
b. Tapi dosa setelah kita percaya tetap bisa mengganggu hubungan kita dengan Allah (meskipun tidak membatalkan status kita sebagai anak-Nya).
c. Seperti dalam keluarga: walau kita tetap anak ayah-ibu, kalau kita menyakiti mereka, hubungan jadi renggang. Minta maaf adalah cara kita memulihkan keintiman.

2. Alkitab Mengajarkan Kita Untuk Mengaku Dosa
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”— 1 Yohanes 1:9
a. Ayat ini ditujukan bagi orang percaya.
b. Mengaku dosa bukan karena kita belum diampuni, tapi karena kita ingin hidup bersih dan dekat dengan Allah setiap hari.

3. Minta Ampun Membentuk Hati yang Rendah dan Sadar Diri
a. Tuhan ingin kita hidup dalam pertobatan yang terus-menerus, bukan dalam rasa bersalah, tapi dalam kesadaran akan kasih karunia-Nya.
b. Setiap kali kita jatuh dan kembali kepada-Nya, kita diingatkan betapa besar kasih-Nya.

Kesimpulan Renungan:
Kita sudah diampuni oleh darah Kristus yang tercurah di salib. Tapi ketika kita berbuat dosa lagi, kita tetap datang dan minta ampun, bukan untuk “mengulang pengampunan”, tapi untuk memelihara hubungan kita dengan Allah.

Doa sederhana:
“Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sudah mati untuk dosaku. Aku tahu Engkau sudah mengampuniku. Tapi saat aku jatuh lagi, tolong aku untuk tidak menjauh dari-Mu, melainkan datang dan berkata, ‘Ampunilah aku, Tuhan.’ Aku rindu hidup dalam kasih dan kebenaran-Mu. Amin.”




Ketika Kebenaran di Tolak

Renungan Harian “Ketika Kebenaran di Tolak” Oleh: Pdt. Dr. Hengky Andrian, M.Th

Kuis: Keselamatan Dari TUHAN

Kuis Keselamatan Dari TUHAN. Oleh: Pdt. Dr. Hengky Andrian, M.Th